Gejolak bisnis 2026 ditandaipersaingan ketat akibat digitalisasi dan globalisasi, tantangan geopolitik, serta krisis iklim.
Hal ini memaksa pelaku usaha fokus pada inovasi, keberlanjutan, dan adaptasi teknologi seperti AI, sambil memanfaatkan peluang di sektor digital, kesehatan, energi terbarukan, dan kuliner yang tetap relevan.
Peluang muncul dari bisnis berbasis kreativitas, AI, green business, kursus online, dan dropshipping, namun membutuhkan strategi adaptif, diferensiasi produk, dan efisiensi operasional untuk bertahan dan tumbuh.
Tantangan Utama
Persaingan Global & Digital : Batasan geografis kabur, persaingan dari pemain digital global semakin ketat.
Gejolak Ekonomi & Geopolitik : Ketidakstabilan global dan domestik memengaruhi investasi dan pasar tenaga kerja.
Krisis Iklim & Keberlanjutan : Tuntutan bisnis ramah lingkungan meningkat, menekan model bisnis lama.
Perang Harga : Keputusan emosional dan over-ekspansi tanpa perhitungan bisa memicu konflik dan kerugian.
Sektor dan Peluang Potensial
Teknologi & Digital : Jasa konsultan AI, content creator, kursus online keterampilan digital, dropshipping, live commerce, dan template digital.
Energi Terbarukan : Investasi dan bisnis di sektor energi bersih akan tumbuh.
Layanan : Jasa edit video pendek, voice over AI, laundry, penitipan hewan, dan jasa titip (jastip).
Strategi Bertahan dan Berkembang
Inovasi Digital : Manfaatkan AI dan platform digital untuk efisiensi dan jangkauan.
Diferensiasi : Bangun keunikan produk/layanan untuk bersaing.
Keberlanjutan : Integrasikan aspek "hijau" ke dalam model bisnis.
Fleksibilitas Modal Kecil : Fokus pada model bisnis dengan modal minim seperti dropshipping atau jasa digital.
Adaptasi Cepat : Bergerak lebih awal dan responsif terhadap perubahan pasar.
Intinya, tahun 2026 akan menjadi tahun bagi bisnis yang adaptif, inovatif, dan fokus pada nilai tambah serta keberlanjutan di tengah ketidakpastian ekonomi global.




